Tag Archives: Perang Banjar

Perang Jagaraga, Perang Banjar, Perang Maluku, dan Perang Aceh

Perang Jagaraga (1846 – 1849)
Penyebab Perang Jagaraga adalah adat hukum tawan karang yang diberlakukan kerajaan Buleleng suatu ketika menawan kapal milik Belanda yang terdampar. Belanda menuntut dikembalikan, tetapi tuntutan itu ditolak. Pecahlah pertempuran diantara kedua belah pihak. Kerajaan Buleleng dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik.

Perang Banjar (1859 – 1863)
Penyebab utama Perang Banjar adalah Belanda ikut campur tangan dalam memilih raja Banjarmasin pengganti Sultan Adam. Belanda mengangkat Pangeran Tamjidilah, sedangkan rakyat Banjarmasin menghendaki Pangeran Hidayatullah sebagai penggantinya. Kemarahan rakyat semakin tersulut ketika Belanda menangkap Prabu Anom, seorang pejuang yang gigih menentang kolonialisme. Mereka berjuang di bawah pimpinan Pangeran Hidayatullah atau Pangeran Antasari.

Perang Maluku (1817)
Penyebab Perang Maluku adalah rakyat Maluku dibebani berbagai kewajiban yang memberatkan, Belanda melaksanakan monopoli dagang, dan Belanda merebut benteng Duurstede. Rakyat Maluku segera mengangkat senjata di bawah pimpinan Thomas Matulesi (yang diberi gelar Pattimura). Pejuang terkenal lainnya adalah Ulupaha, Anthony Rhebok, Thomas Pattiwael, Lucas Latumahina, Christina Martha Tiahahu, dan lain-lain. Perjuangan berakhir ketika Pattimura dihukum gantung pada tanggal 16 Desember 1817.

Perang Aceh (1873 – 1904)
Sebab khusus Perang Aceh adalah Sultan Muhammad Daud Syah (raja Aceh) menolak keinginan Belanda untuk berdaulat di wilayahnya.
Rupanya kepongahan Belanda didasari Traktat Sumatera 1871, yang berisi Inggris memberi kebebasan kepada Belanda untuk menguasai seluruh Sumatera, termasuk Aceh.
Para syuhada Aceh yang terkenal gigih membela tanah airnya adalah Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Tengku Cik Di Tiro, Panglima Polim, dan lain sebagainya.

Siasat yang digunakan Belanda untuk mengakhiri perlawanan rakyat Aceh adalah:
a.    Siasat garis pemusatan, yaitu Belanda memusatkan pertahanannya pada daerah-daerah yang telah dikuasai, terutama Kutaraja.
b.    Siasat adu domba yang diusulkan Jenderal Deykerhoff.
c.    Siasat kekerasan dengan sistem bumi hangus, seperti yang diusulkan Dr. Snouck Hurgronje dalam buku De Atjehers (taktik yang terakhir ini berhasil mengakhiri Perang Aceh di tahun 1904).

Artikel terkait kategori sejarah:
Perkembangan kebudayaan manusia prasejarah
Homo sapiens
Meganthropus paleojavanicus
Pithecanthropus erectus
Organisasi-organisasi Wanita