Sistem tanam paksa

Pelaksanaan sistem tanam paksa dipelopori oleh Johannes van den Bosch. Sistem tanam paksa adalah aturan yang mengharuskan atau memaksa penduduk membayak pajak dalam bentuk barang berupa hasil-hasil tanaman pertanian yang dapat dijual di pasaran Eropa. Tanaman dagang tersebut misalnya kopi, tebu, nila, tembakau, kina, kayu manis, dan kapas.

Ketentuan-ketentuan sistem tanam paksa dimuat dalam lembaran negara nomor 22 tahun 1834 yang antara lain berbunyi sebagai berikut:
a.    Persetujuan-persetujuan akan diadakan dengan penduduk, agar mereka menyediakan sebagian tanahnya untuk ditanami dengan tanaman yang laku dijual di pasaran Eropa.
b.    Tanah yang akan ditanami tidak boleh melebihi seperlima dari tanah pertanian milik penduduk.
c.    Pekerjaan yang diperlukan untuk menanam tanaman tidak boleh melebihi pekerjaan yang diperlukan dalam menanam padi.
d.    Tanah yang disediakan untuk tanaman-dagang dibebaskan dari pembayaran pajak.
e.    Tanaman-dagang itu hasilnya harus diserahkan kepada pemerintah belanda.
f.    Kegagalan panenan akan menjadi tanggungan pemerintah Belanda.
g.    Bagi mereka yang tidak memiliki tanah harus bekerja di perkebunan-perkebunan pemerintah lebih dari 66 hari.
h.    Penggarapan-penggarapan tanaman-dagang itu di bawah pengawasan langsung dari kepala-kepala pribumi. Pegawai-pegawai Eropa mengawasi secara umum jalannya penggarapan sampai pengangkutannya.

Dampak pelaksanaan sistem tanam paksa adalah sebagai berikut:
a.    Bagi pemerintah Belanda
1.    memperoleh surplus keuangan yang dapat digunakan untuk menjalankan roda pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan membangun negeri sendiri.
2.    Badan Usaha Dagang Belanda (NHM) memperoleh keuntungan yang sangat besar, karena mendapat monopoli pengangkutan barang-barang hasil tanam paksa.

b.    Bagi rakyat Indonesia
1.    aspek negatif: banyak rakyat Indonesia yang menderita kelaparan, sakit, dan kematian.
2.    aspek positif: penduduk Indonesia mulai mengenal berbagai jenis tanaman-dagang yang bernilai ekspor, seperti kopi, teh, kina, tembakau, dan nila.

Tokoh-tokoh penentang sistem tanam paksa
a.    Douwes Dekker, yang mengungkapkan penderitaan rakyat Lebak Banten lewat bukunya yang berjudul Max Havelaar.
b.    Baron van Hoevell, seorang pendeta Belanda yang menuntut pemerintahan pusat dan gubernur jenderal agar memperhatikan nasib dan kepentingan rakyat.

Pelaksanaan sistem tanam paksa berlangsung selama 40 tahun, yaitu dari tahun 1830 sampai tahun 1870.

Artikel terkait kategori sejarah:
Peradaban Mesopotamia
Zaman Imperium Cina
Hasil-Hasil Kebudayaan Zaman Imperium Cina
Taoisme
Konfusianisme

Lazada Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>