Category Archives: Sejarah

Pengertian manusia purba

Manusia purba adalah jenis manusia yang hidup jauh sebelum tulisan ditemukan. Manusia purba diyakini telah mendiami bumi sekitar 4 juta tahun yang lalu. Namun demikian para ahli sejarah meyakini bahwa jenis manusia purba pertama telaha ada di muka bumi ini sekitar 2 juta tahun yang lalu.

Manusia purba mempunyai volume otak yang lebih kecil dari pada manusia modern sekarang ini. Mereka biasanya hidup secara berkelompok dan mengandalkan bahan makanannya dari buah-buahan dan binatang kecil. Mereka masih belum mengenal cara bercocok tanam.

Kehidupan manusia purba masih sangat sederhana. Untuk menopang kehidupannya mereka menggunakan alat-alat yang masih sangat sederhana. Biasanya alat yang digunakannya terbuat dari batu.

Dengan cara apa para ahli dapat mendeskripsikan kehidupan manusia purba? Para ahli dapat mendeskripsikan kehidupan manusia purba setelah menemukan fosil atau artefak peninggalan manusia purba. Dengan ditemukannya berbagai temuan tersebut maka dapat dirangkai dan disusun perkiraan kehidupan manusia purba pada zaman dahulu.

 

Gerakan Non Blok (GNB)

Yang menjadi latar belakang berdirinya GNB adalah adanya konflik yang semakin tajam antara Blok Barat dengan Blok Timur di era Perang Dingin.

Negara-negara pelopor yang membidani lahirnya gerakan Non Blok adalah:
1.    Indonesia (Soekarno)
2.    India (Pandit Jawaharlal Nehru)
3.    Yugoslavia (Josep Bros Tito)
4.    Mesir (Gamal Abdul Nasser)
5.    Ghana (Kwame Nkrumah).

Untuk mencapai tujuan utamanya yaitu turut serta menjaga ketertiban dunia sesuai dengan cita-cita PBB, negara-negara GNB melaksanakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT).
1.    KTT I (1-6 September 1961) di Beograd, Yugoslavia
2.    KTT II (5-10 Oktober 1964) di Kairo, Mesir
3.    KTT III (8-10 September 1970) di Lusaka, Zambia
4.    KTT IV (5-9 September 1973) di Aljier, Aljazair
5.    KTT V (16-19 September 1976) di Colombo, Srilangka
6.    KTT VI (3-9 September 1979) di Havana, Kuba
7.    KTT VII (7-12 Maret 1983) di New Delhi, India
8.    KTT VIII (1-6 September 1986) di Harare, Zimbabwe
9.    KTT IX (4-7 September 1989) di Beograd, Yugoslavia
10.    KTT X (1-6 September 1992) di Jakarta, Indonesia.
11.    KTT XI (18-22 Oktober 1995) di Cartagena, Kolombia
12.    KTT XII (31 Agustus – 4 September 1998) di Durban, Afrika Selatan.

Keputusan penting pada KTT ke-10 adalah:
a.    Perlunya dialog selatan-selatan
b.    Mengupayakan kerja sama negara-negara utara-selatan
c.    Masalah penyelesaian utang luar negeri negara anggota GNB.

 

Sebab-sebab Perang Diponegoro

Disebut Perang Diponegoro karena peperangan ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Wilayah peperangan terjadi di Jawa Tengah. Perang Diponegoro terjadi karena sebab-sebab sebagai berikut:
a)    Sebab-sebab umum
–    Kekuasaan raja-raja di Yogyakarta semakin sempit karena daerah pantai utara Jawa Tengan dikuasai Belanda
–    Golongan bangsawan sangat kecewa karena Belanda melarang kaum bangsawan untuk menyewakan tanahnya kepada pihak partikelir
–    Kaum ulama Islam merasa resah karena berkembangnya kebudayaan barat yang sangat mengganggu dan bertentangan dengan agama
–    Kehidupan rakyat semakin menderita karena Belanda melakukan tindakan pemerasan
–    Pangeran Diponegoro merasa kecewa tidak diangkat menjadi pengganti raja, melainkan hanya sebagai wali raja.

b)    Sebab khusus
Belanda merencanakan pembangunan jalan yang menerobos tanah Pangeran Diponegoro dan makam leluhurnya. Pangeran Diponegoro dengan tegas menentang rencana itu. Sebagai unjuk protes patok-patok untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengan tombak-tombak.

 

Sebab-sebab Perang Aceh

Berdasarkan Traktat London 1824 yang ditandatangani antara Belanda dan Inggris dinyatakan bahwa Belanda diberi wewenang menjaga ketentraman di perairan dalam lingkungan kerajaan Aceh. Keduanya harus menjaga kedaulatan Aceh. Namun, Belanda ingin menguasai Aceh. Menguasai Aceh berarti menguasai perdagangan Asia Tenggara. Hal inilah yang mendorong Belanda melanggar Traktat London. Ulah Belanda ini yang menyebabkan terjadinya Perang Aceh.

Sebab-sebab terjadinya perang Aceh adalah sebagai berikut:
a.    Sebab umum
–    Belanda ingin menguasai Aceh
–    Letak Aceh sangat strategis yaitu di Selat Malaka yang merupakan jalur pelayaran internasional
–    Pelayaran Belanda di Selat Malaka sering diganggu oleh pelaut Aceh
–    Traktat Sumatera yang ditandatangani oleh Inggris dan Belanda pada tahun 1871 memberi peluang Belanda untuk menyerang Aceh
–    Belanda mencurigai Aceh yang menjalin hubungan diplomatik dengan Turki, Amerika Serikat, Italia, dan Singapura.

b.    Sebab khusus
Pada tanggal 22 Maret 1873, Belanda menuntut agar Aceh mengakui kedaulatan pemerintah kolonial Belanda. Namun tuntutan itu ditolak oleh Aceh. Kemudian 4 hari setelah penolakan itu, pemerintah kolonial mengumumkan perang kepada Aceh. Peristiwa itu menandai mulainya Perang Aceh.

 

Perang Banjar (1859 – 1863)

Perang Banjar terjadi di Kalimantan Selatan. Sebab-sebab terjadinya Perang Banjar adalah:
a.    Belanda ingin menguasai daerah Banjar yang banyak menghasilkan intan, emas, lada, dan batu bara
b.    Belanda berusaha memaksakan monopoli perdagangan di Banjar
c.    Belanda ikut campur tangan dalam urusan intern Kerajaan Banjar.
d.    Setelah Pangeran Tamjidillah turun tahta, Belanda mengumumkan penghapusan Kerajaan Banjar.

Proses perlawanan
Setelah Tamjidillah naik tahta, timbul pemberontakan yang dipimpin oleh Prabu Anom. Pangeran Hikayat berada di balik pemberontakan ini. Meskipun Prabu Anom tertangkap, namun perlawanan terus berkobar. Sejak tahun 1859, Pangeran Antasari tampil sebagai pemimpin perlawanan. Bersama rakyat, ia menyerang pos Belanda di Martapura.
Pangeran Antasari mendapat dukungan dari tokoh-tokoh seperti Kyai Demang Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang. Dalam sebuah pertempuran, rakyat berhasil menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda di Sungai Barito. Akibatnya pada tahun 1860 Belanda menghapuskan Kerajaan Banjar.

Akhir perlawanan
Kekuatan rakyat Banjar semakin melemah sejak wafatnya Pangeran Antasari (1862), serta tertangkapnya beberapa tokoh pimpinan. Kemudian perlawanan dilanjutkan oleh Gusti Matsaid, Notowijoyo, Suropati, Rosyid, Gusti Acil, dan Gusti Arsat sampai dengan tahun 1836.

 

Sejarah VOC

Belanda mendirikan kongsi dagang yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1602. Indonesia menjadi salah satu wilayah yang dikuasai VOC. Tujuan Belanda mendirikan VOC adalah sebagai berikut:
1.    membantu pemerintah Belanda dalam bidang keuangan
2.    melindungi pedagang Belanda dari para pedagang (kongsi dagang) lainnya
3.    menghindari persaingan di antara para pedagang Belanda sendiri
4.    memperkuat posisi sehingga dapat melaksanakan monopoli perdagangan rempah-rempah.

Untuk mempermudah pengawasan pelaksanaan monopoli perdagangan rempah-rempah, Belanda mengangkat seorang gubernur jenderal. Gubernur jenderal pertama yang berkuasa di Indonesia adalah Pieter Both.

Pemerintah Belanda pun memberikan hak-hak istimewa kepada VOC untuk memperlancar tugas-tugasnya. Hak-hak istimewa VOC tersebut disebut dengan hak Octrooi, antara lain sebagai berikut:
1.    hak mencetak uang
2.    hak memerintah wilayah yang diduduki
3.    hak membantu keuangan pemerintah Belanda
4.    hak memiliki angkatan perang
5.    hak melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah.

Pada tanggal 31 Desember 1799 VOC akhirnya dibubarkan karena hal-hal sebagai berikut:
1.    keuangan VOC yang selalu mengalami defisit sehingga memiliki utang yang banyak
2.    pegawai VOC banyak yang melakukan korupsi
3.    terjadinya persaingan dagang yang hebat dari bangsa Inggris dan Perancis
4.    timbulnya perlawanan-perlawanan bangsa Indonesia di berbagai daerah
5.    banyaknya biaya yang dikeluarkan, yaitu untuk biaya perang dan gaji para pegawainya
6.    penduduk Jawa sudah terlalu miskin sehingga tidak mampu membeli barang-barang yang disediakan oleh VOC.

Setelah VOC dibubarkan, kekuasaan di Indonesia dipegang langsung oleh pemerintah Belanda.

 

Thomas Stamford Raffles

Thomas Stamford Raffles mengambil tindakan-tindakan di berbagai bidang untuk menjalankan pemerintahannya. Berikut ini adalah tindakan-tindakan yang dilakukan Thomas Stamford Raffles di Hindia Belanda:
1. Di bidang pemerintahan
a. membagi Pulau Jawa menjadi enam belas keresidenan
b. para bupati dijadikan pegawai negeri
c. mengurangi kekuasaan para raja
d. Keraton Yogyakarta dan Surakarta dipersempit.

2. Di bidang keuangan
a. menjadikan monopoli perdagangan garam
b. melaksanakan perdagangan bebas dengan memberikan kebebasan kepada rakyat untuk ikut serta dalam perdagangan
c. melanjutkan penanaman kopi dan menjual tanah kepada pihak swasta
d. memberlakukan sistem landrente (sewa tanah).

3. Di bidang sosial
a. menghapus perbudakan
b. mengurangi pengaruh penguasa tradisional.

Dengan tindakan-tindakan yang telah dilakukannya itu, Raffles telah melakukan perubahan dalam beragam bidang kehidupan rakyat. Tindakan-tindakannya itu ternyata ada yang mendatangkan penderitaan bagi rakyat Hindia Belanda. Contohnya dengan adanya pemungutan pajak yang cukup tinggi. Adapun hambatan yang dihadapi Raffles dalam menjalankan kebijakannya adalah adanya kenyataan bahwa rakyat Hindia Belanda belum mengenal uang sebagai alat pembayaran. Keadaan ini menyebabkan pelaksanaan landrente menemui hambatan.

Pada satu sisi, Raffles mendatangkan banyak penderitaan terhadap rakyat Indonesia, tetapi pada sisi yang lain Raffles juga berjasa bagi bangsa ini. Diantara jasa-jasa Raffles adalah sebagai berikut:
1.    mengangkat kembali Sultan Sepuh di Yogyakarta sebagai sultan
2.    menemukan jenis bunga yang diberi nama Rafflesia Arnoldi
3.    menulis buku sejarah Pulau Jawa yang diberi judul The History of Java
4.    membantu dan menyokong perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan
5.    istri Raffles yang bernama Olivia Marianne berjasa sebagai perintis Kebun Raya Bogor.

 

Perlawanan Untung Suropati (1685 – 1706)

Perlawanan Untung Suropati berawal dari kebenciannya akan tindakan sewenang-wenang prajurit VOC. Perlawanan ini mulai dilakukan di sekitar Batavia, lalu merambat ke Cirebon, Priangan, dan Mataram. Dalam perjuangannya, Untung Suropati sempat bersekutu dengan Amangkurat II. Persekutuan ini cukup ampuh, terbukti dari berhasilnya pasukan VOC dihalau dari Mataram. Bahkan pada tahun 1686, pemimpin VOC yang bernama Kapten Track berhasil dibunuh di Kartasura. Kemudian Amangkurat II memberikan daerah Pasuruan kepada Untung Suropati dan diakui sebagai adipati dengan gelar Adipati Wiranegara.

Pada tahun 1703, Sultan Amangkurat II wafat dan digantikan oleh Sultan Amangkurat III (Sultan Mas). Pergantian ini ditentang oleh Pangeran Puger. Pangeran Puger merasa berhak atas tahta Mataram. Pada tanggal 12 Mei 1704, ia mencari perlindungan dan dukungan VOC. Oleh VOC, Pangeran Puger dinobatkan menjadi raja Mataram dengan gelar Sultan Paku Buwono I.

Amangkurat III melarikan diri ke Jawa Timur dan bergabung dengan pasukan Untung Suropati. Dalam pertempuran di Bangil pada tahun 1706, Untung Suropati tewas terbunuh oleh sepasukan VOC dibawah pimpinan Herman de Wilde.

Amangkurat III melanjutkan perlawanan terhadap VOC, tetapi karena prajuritnya kalah kuat maka tahun 1707 ia ditangkap dan diasingkan ke Sri Langka.

 

Perlawanan Trunojoyo (1674 – 1680)

Trunojoyo adalah seorang pangeran yang berasal dari Madura. Perlawanan ini tadinya ditujukan kepada pengganti Sultan Agung, yaitu Sultan Amangkurat I. Namun, karena Amangkurat I mau berkompromi dengan VOC, perlawanan Trunojoyo akhirnya ditujukan kepada VOC juga.

Trunojoyo mendapat bantuan dari beberapa pihak, antara lain Macan Wulung dari Madura Timur, Panembahan Romo dari Giri, Kraeng Galesung dan Monte Marano dari Bugis, serta Raden Kajoran dari Bagelen. Pada tahun 1677, Trunojoyo berhasil menduduki ibu kota Mataram, Plered. Amangkurat I melarikan diri dan meninggal di Tegalarum. Oleh karena itu, namanya terkenal dengan nama Sultan Tegalarum. Amangkurat I digantikan oleh Amangkurat II, ibu kota Mataram dipindah ke Kartasura. Dengan bantuan VOC di bawah pimpinan Anthoni Hurd dan Kapiten Jonker, Amangkurat II berhasil meredam perlawanan Trunojoyo.

Trunojoyo kemudian dibunuh oleh Sultan Amangkurat II. Sebagai upah VOC dalam membantu menumpas perlawanan Trunojoyo, pada tahun 1678 diadakan perjanjian antara VOC dengan Sultan Amangkurat II, yang isinya:
a.    Daerah Karawang, sebagian Priangan dan Semarang diserahkan kepada VOC.
b.    VOC bebas berdagang di wilayah Mataram dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak.
c.    Semua daerah pantai utara Jawa diserahkan kepada VOC.

 

Perlawanan Sultan Agung

Sultan Agung bercita-cita ingin mempersatukan raja-raja Jawa di bawah kekuasannya. Untuk mencapai cita-citanya itu, VOC dianggap sebagai penghalang. Itulah sebabnya pada tahun 1628, Mataram menyerang VOC yang berkedudukan di Batavia. Pemimpin-pemimpin perang Mataram, antara lain Tumenggung Baurekso, Tumenggung Suro Agul-agul, Kyai Dipati Mandurejo, dan Kyai Dipati Uposonto. Serangan Mataram ini mengalami kegagalan. Kegagalan ini diikuti pula oleh serangannya yang kedua tahun 1629. serangan yang kedua ini dipimpin oleh Dipati Ukur.

Kegagalan Sultan Agung mengusir VOC dari Batavia, disebabkan oleh:
a.    Persediaan makanan tentara Mataram dibakar VOC.
b.    Pertahanan VOC memang kuat.
c.    Musim hujan terlalu cepat datang.
d.    Penyakit menular berjangkit.
e.    Persenjataan Mataram kalah canggih.
f.    Jarak Mataram ke Batavia terlalu jauh.

Karena mengalami dua kali kegagalan, akhirnya Sultan Agung memutuskan untuk mengganti haluan politiknya dengan menjalankan blokade ekonomi terutama perdagangan beras yang menjadi monopoli VOC pada saat itu.